Manajemen Konflik
A.
Definisi
Konflik
Konflik dalam pengertian yang sangat
luas dapat dikatakan sebagai segala macam bentuk antar hubungan antar manusia
yang bersifat berlawanan (antagonistik). Ia dapat terlihat secara jelas dan
dapat pula tersembunyi.
Menurut kamus besar bahasa
Indonesia, konflik adalah percekcokan, perselisihan atau pertentangan baik dari
segi pemikiran atau kebijakan.
Menurut sosiologis, konflik
merupakan proses antara dua orang atau lebih yang berusaha menyingkirkan dengan
cara menghancurkan atau membuat tidak berdaya.
Menurut Soerjono Soekanto, konflik
adalah proses memenuhi tujuan dengan cara menentang pihak lawan disertai
ancaman atau kekerasan.
Menurut Lewis A.Coser, konflik
adalah perjuangan nilai kekuasaan dan sumber daya yang bersifat langka dengan
maksud menetralkan, mencederai atau melenyapkan lawan.
Menurut Gillin dan Gillin, konflik
merupakan proses interaksi yang berlawanan .
Konflik adalah proses yang dimulai
ketika satu pihak menganggap pihak lain secara negatif mempengaruhi, atau akan
secara negatif mempengaruhi, sesuatu yang menjadi kepedulian pihak pertama.
B.
Pandangan
Mengenai Konflik
Terdapat
perbedaan pandangan terhadap peran konflik dalam kelompok atau organisasi. Ada
yang berpendapat bahwa konflik harus dihindari atau dihilangkan, karena jika
dibiarkan maka akan merugikan organisasi. Berlawanan dengan ini, pendapat lain
menyatakan bahwa jika konflik dikelola sedemikian rupa maka konflik tersebut
akan membawa keuntungan bagi kelompok dan organisasi. Stoner dan Freeman
menyebut konflik tersebut sebagai konflik organisasional (organizational
conflict).
Pertentangan
pendapat ini oleh Robbins (1996:431) disebut sebagai the Conflict Paradox, yaitu pandangan bahwa di satu sisi
konflik dianggap dapat meningkatkan kinerja kelompok, namun di sisi lain
kebanyakan kelompok dan organisasi berusaha untuk meminimalisir konflik.
Dalam uraian di
bawah ini disajikan beberapa pandangan tentang konflik, sebagaimana yang
dikemukakan oleh Robbins (1996:429) :
a.
Pandangan
Tradisional (The Traditional View)
Pandangan ini
menyatakan bahwa semua konflik itu buruk. Konflik dilihat sebagai sesuatu yang
negatif, merugikan dan harus dihindari. Untuk memperkuat konotasi negatif ini,
konflik disinonimkan dengan istilah violence, destruction, dan irrationality.
Pandangan ini konsisten dengan sikap-sikap yang dominan mengenai perilaku
kelompok dalam dasawarsa 1930-an dan 1940-an. Konflik dilihat sebagai suatu
hasil disfungsional akibat komunikasi yang buruk, kurangnya kepercayaan dan
keterbukaan di antara orang-orang, dan kegagalan manajer untuk tanggap terhadap
kebutuhan dan aspirasi karyawan.
b.
Pandangan
Hubungan Manusia (The Human Relations View)
Pandangan ini berargumen bahwa konflik merupakan
peristiwa yang wajar terjadi dalam semua kelompok dan organisasi. Konflik
merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari, karena itu keberadaan konflik
harus diterima dan dirasionalisasikan sedemikian rupa sehingga bermanfaat
bagi peningkatan kinerja organisasi. Pandangan ini mendominasi teori konflik
dari akhir dasawarsa 1940-an sampai pertengahan 1970-an.
c.
Pandangan
Interaksionis (The Interactionist View)
Pandangan
ini cenderung mendorong terjadinya konflik, atas dasar suatu asumsi bahwa
kelompok yang koperatif, tenang, damai, dan serasi, cenderung menjadi statis,
apatis, tidak aspiratif, dan tidak inovatif. Oleh karena itu, menurut aliran
pemikiran ini, konflik perlu dipertahankan pada tingkat minimun secara
berkelanjutan, sehingga kelompok tetap bersemangat (viable), kritis-diri
(self-critical), dan kreatif. Stoner dan Freeman (1989:392) membagi
pandangan tentang konflik menjadi dua bagian, yaitu pandangan tradisional (old
view) dan pandangan modern (current view).
C. Faktor Penyebab Timbulnya Konflik
Menurut Robbins
(1996), konflik muncul karena ada kondisi yang melatar -belakanginya (antecedent
conditions). Kondisi tersebut, yang disebut juga sebagai sumber terjadinya
konflik, terdiri dari tiga kategori, yaitu :
a.
Komunikasi
Komunikasi yang buruk, dalam arti komunikasi yang
menimbulkan kesalah - pahaman antara pihak-pihak yang terlibat, dapat menjadi
sumber konflik. Suatu hasil penelitian menunjukkan bahwa kesulitan semantik,
pertukaran informasi yang tidak cukup, dan gangguan dalam saluran komunikasi
merupakan penghalang terhadap komunikasi dan menjadi kondisi anteseden untuk
terciptanya konflik.
b.
Struktur
Istilah struktur dalam konteks ini digunakan dalam artian
yang mencakup: ukuran (kelompok), derajat spesialisasi yang diberikan kepada
anggota kelompok, kejelasan jurisdiksi (wilayah kerja), kecocokan antara tujuan
anggota dengan tujuan kelompok, gaya kepemimpinan, sistem imbalan, dan derajat
ketergantungan antara kelompok. Penelitian menunjukkan bahwa ukuran kelompok
dan derajat spesialisasi merupakan variabel yang mendorong terjadinya konflik.
Makin besar kelompok, dan makin terspesialisasi kegiatannya, maka semakin besar
pula kemungkinan terjadinya konflik.
c.
Variabel
Pribadi
Sumber konflik lainnya yang potensial adalah faktor
pribadi, yang meliputi: sistem nilai yang dimiliki tiap-tiap individu,
karakteristik kepribadian yang menyebabkan individu memiliki keunikan (idiosyncrasies)
dan berbeda dengan individu yang lain. Kenyataan menunjukkan bahwa tipe
kepribadian tertentu, misalnya, individu yang sangat otoriter, dogmatik, dan
menghargai rendah orang lain, merupakan sumber konflik yang potensial. Jika
salah satu dari kondisi tersebut terjadi dalam kelompok, dan para karyawan
menyadari akan hal tersebut, maka muncullah persepsi bahwa di dalam kelompok
terjadi konflik. Keadaan ini disebut dengan konflik yang dipersepsikan (perceived
conflict). Kemudian jika individu terlibat secara emosional, dan mereka
merasa cemas, tegang, frustrasi, atau muncul sikap bermusuhan, maka konflik
berubah menjadi konflik yang dirasakan (felt conflict). Selanjutnya,
konflik yang telah disadari dan dirasakan keberadaannya itu akan berubah
menjadi konflik yang nyata, jika pihak-pihak yang terlibat mewujudkannya dalam
bentuk perilaku. Misalnya, serangan secara verbal, ancaman terhadap pihak lain,
serangan fisik, huru-hara, pemogokan, dan sebagainya.
Berbeda dengan
Robbins yang hanya menyebut tiga factor dalam antecedent conditions,
Schermerhorn merinci antecedent conditions menjadi lima faktor, yaitu :
1.
Ketidakjelasan peranan atau peranan
yang mendua (role ambiguities)
2.
Persaingan untuk mendapatkan sumberdaya
yang terbatas
3.
Rintangan-rintangan dalam komunikasi (communication
barriers)
4.
Konflik sebelumnya yang tidak
terselesaikan
5.
Perbedaan-perbedaan individual, yang
mencakup: perbedaan kebutuhan, nilai-nilai, dan perbedaan tujuan.
Selanjutnya, Kreitner dan Kinicki (1995:284-285) merinci
lagi antecedent conditions itu menjadi 12 faktor sebagai berikut :
1.
Ketidakcocokan kepribadian atau sistem
nilai.
2.
Batas-batas pekerjaan yang tidak jelas
atau tumpang-tindih.
3.
Persaingan untuk memperoleh sumberdaya
yang terbatas.
4.
Pertukaran informasi atau komunikasi
yang tidak cukup (inadequate (communication).
5.
Kesalingtergantungan dalam pekerjaan
(misalnya, seseorang tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya tanpa bantuan orang
lain).
6.
Kompleksitas organisasi (konflik
cenderung meningkat bersamaan dengan semakin meningkatnya susunan hierarki dan
spesialisasi pekerjaan).
7.
Peraturan-peratuan, standar kerja, atau
kebijakan yang tidak jelas atau tidak masuk akal.
8.
Batas waktu penyelesaian pekerjaan yang
tidak masuk akal sehingga sulit dipenuhi (unreasonable deadlines).
9.
Pengambilan keputusan secara kolektif
(semakin banyak orang yang terlibat dalam proses pengambilan keputusan, semakin
potensial untuk konflik).
10. Pengambilan keputusan melalui
konsensus.
11. Harapan-harapan yang tidak terpenuhi
(karyawan yang memiliki harapan yang tidak realistik terhadap pekerjaan, upah,
atau promosi, akan lebih mudah untuk konflik).
12. Tidak menyelesaikan
atau menyembunyikan konflik.
Menurut
Kreitner dan Kinicki (1995), manajer atau pimpinan organisasi harus proaktif
untuk mengidentifikasikan keberadaan kondisi - kondisi tersebut dalam
organisasinya, dan jika salah satu atau lebih dari kondisi itu muncul, maka ia
harus segera mengambil tindakan, sebelum kondisi itu menjadi konflik terbuka
atau konflik yang nyata (manifest conflict). Dengan cara seperti ini,
diharapkan konflik tidak meluas ke seluruh organisasi dan akhirnya mempengaruhi
kinerja karyawan. Untuk itulah maka manajer harus memiliki kemampuan untuk
mengelola konflik, sehingga konflik tidak menjadi faktor yang mengancam
keberlangsungan hidup organisasi, tetapi menjadi faktor yang fungsional untuk
meningkatkan kinerja organisasi.
D.
Jenis
Konflik
Terdapat berbagai macam jenis
konflik, tergantung pada dasar yang digunakan untuk membuat klasifikasi. Ada
yang membagi konflik berdasarkan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya, ada
yang membagi konflik dilihat dari fungsi dan ada juga yang membagi konflik
dilihat dari posisi seseorang dalam suatu organisasi.
a.
Konflik
Dilihat dari Posisi Seseorang dalam Struktur Organisasi
Jenis konflik ini disebut juga konflik intra keorganisasian. Dilihat dari posisi seseorang dalam struktur organisasi, Winardi membagi konflik menjadi empat macam. Keempat jenis konflik tersebut adalah sebagai berikut :
Jenis konflik ini disebut juga konflik intra keorganisasian. Dilihat dari posisi seseorang dalam struktur organisasi, Winardi membagi konflik menjadi empat macam. Keempat jenis konflik tersebut adalah sebagai berikut :
1. Konflik vertikal, yaitu konflik yang
terjadi antara karyawan yang memiliki kedudukan yang tidak sama dalam
organisasi. Misalnya, antara atasan dan bawahan.
2. Konflik horizontal, yaitu konflik
yang terjadi antara mereka yang memiliki kedudukan yang sama atau setingkat
dalam organisasi. Misalnya, konflik antar karyawan, atau antar departemen yang
setingkat.
3. Konflik garis-staf, yaitu konflik
yang terjadi antara karyawan lini yang biasanya memegang posisi komando, dengan
pejabat staf yang biasanya berfungsi sebagai penasehat dalam organisasi.
4. Konflik peranan, yaitu konflik yang
terjadi karena seseorang mengemban lebih dari satu peran yang saling
bertentangan.
b. Konflik Dilihat dari Pihak yang
Terlibat di Dalamnya
Berdasarkan pihak-pihak yang
terlibat di dalam konflik, Stoner membagi konflik menjadi lima macam , yaitu:
1. Konflik dalam diri individu
(conflict within the individual) yaitu konflik ini terjadi jika seseorang harus
memilih tujuan yang saling bertentangan, atau karena tuntutan tugas yang
melebihi batas kemampuannya. Termasuk dalam konflik individual ini, menurut
Altman, adalah frustasi, konflik tujuan dan konflik peranan .
2. Konflik antar-individu (conflict between
individuals) yaitu terjadi karena perbedaan kepribadian antara individu yang
satu dengan individu yang lain.
3. Konflik antara individu dan kelompok
(conflict between individuals and groups) yaitu terjadi jika individu gagal
menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok tempat ia bekerja.
4. Konflik antar kelompok dalam
organisasi yang sama (conflict among groups in the same organization) yaitu
konflik ini terjadi karena masing-masing kelompok memiliki tujuan yang berbeda
dan masing-masing berupaya untuk mencapainya. Masalah ini terjadi karena pada
saat kelompok-kelompok makin terikat dengan tujuan atau norma mereka sendiri,
mereka makin kompetitif satu sama lain dan berusaha mengacau aktivitas pesaing
mereka, dan karenanya hal ini mempengaruhi organisasi secara keseluruhan .
5. Konflik antar organisasi (conflict
among organizations) yaitu konflik ini terjadi jika tindakan yang dilakukan
oleh organisasi menimbulkan dampak negatif bagi organisasi lainnya. Misalnya,
dalam perebutan sumberdaya yang sama.
c. Konflik Dilihat dari Fungsi
Dilihat dari fungsi, Robbins membagi konflik menjadi dua macam, yaitu:
c. Konflik Dilihat dari Fungsi
Dilihat dari fungsi, Robbins membagi konflik menjadi dua macam, yaitu:
1. Konflik fungsional (Functional
Conflict)
Konflik
fungsional adalah konflik yang mendukung pencapaian tujuan kelompok, dan
memperbaiki kinerja kelompok.
2. Konflik disfungsional (Dysfunctional
Conflict)
Konflik
difungsional adalah konflik yang merintangi pencapaian tujuan kelompok.
Menurut Robbins, batas yang menentukan apakah suatu konflik fungsional atau disfungsional sering tidak tegas (kabur). Suatu konflik mungkin fungsional bagi suatu kelompok, tetapi tidak fungsional bagi kelompok yang lain. Begitu pula, konflik dapat fungsional pada waktu tertentu, tetapi tidak fungsional di waktu yang lain. Kriteria yang membedakan apakah suatu konflik fungsional atau disfungsional adalah dampak konflik tersebut terhadap kinerja kelompok, bukan pada kinerja individu. Jika konflik tersebut dapat meningkatkan kinerja kelompok, walaupun kurang memuaskan bagi individu, maka konflik tersebut dikatakan fungsional. Demikian sebaliknya, jika konflik tersebut hanya memuaskan individu saja, tetapi menurunkan kinerja kelompok maka konflik tersebut disfungsional.
E. Strategi dalam Manajemen Konflik
Definisi Manajemen Konflik
Menurut Robbins, batas yang menentukan apakah suatu konflik fungsional atau disfungsional sering tidak tegas (kabur). Suatu konflik mungkin fungsional bagi suatu kelompok, tetapi tidak fungsional bagi kelompok yang lain. Begitu pula, konflik dapat fungsional pada waktu tertentu, tetapi tidak fungsional di waktu yang lain. Kriteria yang membedakan apakah suatu konflik fungsional atau disfungsional adalah dampak konflik tersebut terhadap kinerja kelompok, bukan pada kinerja individu. Jika konflik tersebut dapat meningkatkan kinerja kelompok, walaupun kurang memuaskan bagi individu, maka konflik tersebut dikatakan fungsional. Demikian sebaliknya, jika konflik tersebut hanya memuaskan individu saja, tetapi menurunkan kinerja kelompok maka konflik tersebut disfungsional.
E. Strategi dalam Manajemen Konflik
Definisi Manajemen Konflik
Manajemen konflik merupakan serangkaian aksi dan
reaksi antara pelaku maupun pihak luar dalam suatu konflik. Manajemen
konflik termasuk pada suatu pendekatan yang berorientasi pada proses yang
mengarahkan pada bentuk komunikasi (termasuk tingkah laku) dari pelaku maupun
pihak luar dan bagaimana mereka mempengaruhi kepentingan (interests) dan
interpretasi. Bagi pihak luar (di luar yang berkonflik) sebagai pihak ketiga,
yang diperlukannya adalah informasi yang akurat tentang situasi konflik. Hal
ini karena komunikasi efektif di antara pelaku dapat terjadi jika ada kepercayaan
terhadap pihak ketiga. Menurut Ross (1993) bahwa manajemen konflik
merupakan langkah-langkah yang diambil para pelaku atau pihak ketiga dalam
rangka mengarahkan perselisihan ke arah hasil tertentu yang mungkin atau tidak
mungkin menghasilkan suatu akhir berupa penyelesaian konflik dan mungkin atau
tidak mungkin menghasilkan ketenangan, hal positif, kreatif, bermufakat, atau
agresif. Manajemen konflik dapat melibatkan bantuan diri sendiri, kerjasama
dalam memecahkan masalah (dengan atau tanpa bantuan pihak ketiga) atau
pengambilan keputusan oleh pihak ketiga. Suatu pendekatan yang berorientasi
pada proses manajemen konflik menunjuk pada pola komunikasi (termasuk perilaku)
para pelaku dan bagaimana mereka mempengaruhi kepentingan dan penafsiran
terhadap konflik.
Peran
manajemen konflik dalam organisasi.
Dalam
sebuah organisai, pekerjaan individual maupun sekelompok pekerja saling terkait
dengan pekerjaan pihak-pihak lain. Ketika suatu konflik muncul di dalam sebuah
organisasi, penyebabnya selalu diidentifikasikan sebagai komunikasi yang kurang
baik. Demikian pula ketika suatu keputusan yang buruk dihasilkan, komunikasi
yang tidak efektif selalu menjadi kambing hitam.
Para
manajer bergantung kepada ketrampilan berkomunikasi mereka dalam memperoleh
informasi yang diperlukan dalam proses perumusan keputusan, demikian pula untuk
mensosialisasikan hasil keputusan tersebut kepada pihak-pihak lain. Riset
membuktikan bahwa manajer menghabiskan waktu sebanyak 80 persen dari total
waktu kerjanya untuk interaksi verbal dengan orang lain.
Ketrampilan
memproses informasi yang dituntut dari seorang manajer termasuk kemampuan untuk
mengirim dan menerima informasi ketika bertindak sebagai monitor, juru bicara
(Spekesperson), maupun penyusun strategi.
Sudah
menjadi tuntutan alam dalam posisi dan kewajiban sebagai manajer untuk selalu
dihadapkan pada konflik. Salah satu titik pening dari tugas seorang manajer
dalam melaksanakan komunikasi yang efektif didalam organisasi bisnis yang
ditanganinya adalah memastikan bahwa arti yang dimaksud dalam instruksi yang
diberikan akan sama dengan arti yang diterima olh penerima instruksi demikian
pula sebaliknya (the intended meaning of the same). Hal ini harus menjadi tujuan
seorang manejer dalam semua komunikasi yag dilakukannya. Dalam hal me-manage
bawahannya, manajer selalu dihadapkan pada penentuan tuntuan pekerjaan dari
setiap jabatan yang dipegang dan ditangani oleh bawahannya (role expectaties)
dan konflik dapat menimbulkan ketegangan yang akan berefleksi buruk kepada
sikap kerja dan perilaku individual. Manajer yang baik akan berusaha untuk
meminimasasi konsukensi negatif ini dengan cara membuka dan mempertahankan
komunikasi dua arah yang efektif kepada setiap anggota bawahannya. Disinilah
manajer dituntut untuk memenuhi sisi lain dari ketrampilan interpersonalnya,
yaitu kemampuan untuk menangani dan menyelesaikan konflik.
Manajer
menghabiskan 20 persen dari waktu kerja mereka berhadapan dengan konflik. Dalam
hal ini, manajer bisa saja sebagai pihak pertama yang langsung terlibat dalam
konflik tersebut, dan bisa saja sebagai pihak pertama yang langsung terlibat
dalam konflik tersebut, dan bisa pula sebagai mediator atau pihak ketiga, yang
perannya tidak lain dari menyelesaikan konflik antar pihak lain yang
mempengaruhi organisasi bisnis maupun individual yang terlibat di dalam organisasi
bisnis yang ditanganinya.
1.
Dampak
Positif Konflik
Menurut Wijono (1993:3), bila upaya penanganan dan pengelolaan konflik karyawan dilakukan secara efisien dan efektif maka dampak positif akan muncul melalui perilaku yang dinampakkan oleh karyawan sebagai sumber daya manusia potensial dengan berbagai akibat seperti:
Menurut Wijono (1993:3), bila upaya penanganan dan pengelolaan konflik karyawan dilakukan secara efisien dan efektif maka dampak positif akan muncul melalui perilaku yang dinampakkan oleh karyawan sebagai sumber daya manusia potensial dengan berbagai akibat seperti:
a. Meningkatnya ketertiban dan
kedisiplinan dalam menggunakan waktu bekerja, seperti hampir tidak pernah ada
karyawan yang absen tanpa alasan yang jelas, masuk dan pulang kerja tepat pada
waktunya, pada waktu jam kerja setiap karyawan menggunakan waktu secara
efektif, hasil kerja meningkat baik kuantitas maupun kualitasnya.
b. Meningkatnya hubungan kerjasama yang
produktif. Hal ini terlihat dari cara pembagian tugas dan tanggung jawab sesuai
dengan analisis pekerjaan masing-masing.
c. Meningkatnya motivasi kerja untuk
melakukan kompetisi secara sehat antar pribadi maupun antar kelompok dalam
organisasi, seperti terlihat dalam upaya peningkatan prestasi kerja, tanggung
jawab, dedikasi, loyalitas, kejujuran, inisiatif dan kreativitas.
d. Semakin berkurangnya
tekanan-tekanan, intrik-intrik yang dapat membuat stress bahkan produktivitas
kerja semakin meningkat. Hal ini karena karyawan memperoleh perasaan-perasaan
aman, kepercayaan diri, penghargaan dalam keberhasilan kerjanya atau bahkan
bisa mengembangkan karier dan potensi dirinya secara optimal.
e. Banyaknya karyawan yang dapat mengembangkan
kariernya sesuai dengan potensinya melalui pelayanan pendidikan (education),
pelatihan (training) dan konseling (counseling) dalam aspek kognitif, afektif
dan psikomotorik. Semua ini bisa menjadikan tujuan organisasi tercapai dan
produktivitas kerja meningkat akhirnya kesejahteraan karyawan terjamin.
2. Dampak Negatif Konflik
Dampak
negatif konflik (Wijono, 1993, p.2), sesungguhnya disebabkan oleh kurang
efektif dalam pengelolaannya yaitu ada kecenderungan untuk membiarkan konflik
tumbuh subur dan menghindari terjadinya konflik. Akibatnya muncul
keadaan-keadaan sebagai berikut:
a. Meningkatkan jumlah absensi karyawan
dan seringnya karyawan mangkir pada waktu jam-jam kerja berlangsung seperti
misalnya ngobrol berjam-jam sambil mendengarkan sandiwara radio, berjalan
mondar-mandir menyibukkan diri, tidur selama pimpinan tidak ada di tempat, pulang
lebih awal atau datang terlambat dengan berbagai alasan yang tak jelas.
b. Banyak karyawan yang mengeluh karena
sikap atau perilaku teman kerjanya yang dirasakan kurang adil dalam membagi
tugas dan tanggung jawab.
Seringnya terjadi perselisihan antar karyawan yang bisa memancing kemarahan,
ketersinggungan yang akhirnya dapat mempengaruhi pekerjaan, kondisi psikis dan
keluarganya.
c. Banyak karyawan yang sakit-sakitan,
sulit untuk konsentrasi dalam pekerjaannya, muncul perasaan-perasaan kurang
aman, merasa tertolak oleh teman ataupun atasan, merasa tidak dihargai hasil
pekerjaannya, timbul stres yang berkepanjangan yang bisa berakibat sakit
tekanan darah tinggi, maag ataupun yang lainnya.
d. Seringnya karyawan melakukan
mekanisme pertahanan diri bila memperoleh teguran dari atasan, misalnya
mengadakan sabotase terhadap jalannya produksi, dengan cara merusak mesin-mesin
atau peralatan kerja, mengadakan provokasi terhadap rekan kerja, membuat
intrik-intrik yang merugikan orang lain.
e. Meningkatnya kecenderungan karyawan
yang keluar masuk dan ini disebut labor turn-over. Kondisi semacam ini bisa
menghambat kelancaran dan kestabilan organisasi secara menyeluruh karena
produksi bisa macet, kehilangan karyawan potensial, waktu tersita hanya untuk
kegiatan seleksi dan memberikan latihan dan dapat muncul pemborosan dalam cost
benefit.
Konflik yang tidak terselesaikan
dapat merusak lingkungan kerja sekaligus orang-orang di dalamnya, oleh karena
itu konflik harus mendapat perhatian. Jika tidak, maka seorang manajer akan
terjebak pada hal-hal seperti:
a. Kehilangan karyawan yang berharga
dan memiliki keahlian teknis. Dapat saja mereka mengundurkan diri. Manajer
harus menugaskan mereka kembali, dan contoh yang paling buruk adalah karena
mungkin Manajer harus memecat mereka.
b. Menahan atau mengubah informasi yang
diperlukan rekan-rekan sekerja yang lurus hati agar tetap dapat mencapai
prestasi.
c. Keputusan yang lebih buruk yang diambil oleh
perseorangan atau tim karena mereka sibuk memusatkan perhatian pada orangnya,
bukan pada masalahnya.
d. Kemungkinan sabotase terhadap
pekerjaan atau peralatan. Seringkali dimaklumi sebagai faktor “kecelakaan” atau
“lupa”. Namun, dapat membuat pengeluaran yang diakibatkan tak terhitung
banyaknya.
e. Sabotase terhadap hubungan pribadi
dan reputasi anggota tim melalui gosip dan kabar burung. Segera setelah orang
tidak memusatkan perhatian pada tujuan perubahan, tetapi pada masalah emosi dan
pribadi, maka perhatian mereka akan terus terpusatkan ke sana.
f. Menurunkan moral, semangat, dan motivasi
kerja. Seorang karyawan yang jengkel dan merasa ada yang berbuat salah
kepadanya tidak lama kemudian dapat meracuni seluruh anggota tim. Bila semangat
sudah berkurang, manajer akan sulit sekali mengobarkannya kembali.
Masalah
yang berkaitan dengan stres. Ada bermacam-macam, mulai dari efisiensi yang
berkurang sampai kebiasaan membolos kerja. (Stevenin,2000 : 131-132).
a. Menghindar
Menghindari
konflik dapat dilakukan jika isu atau masalah yang memicu konflik tidak terlalu
penting atau jika potensi konfrontasinya tidak seimbang dengan akibat yang akan
ditimbulkannya. Penghindaran merupakan strategi yang memungkinkan
pihak-pihak yang berkonfrontasi untuk menenangkan diri. Manajer perawat yang
terlibat didalam konflik dapat menepiskan isu dengan mengatakan “Biarlah kedua
pihak mengambil waktu untuk memikirkan hal ini dan menentukan tanggal untuk
melakukan diskusi”
b. Mengakomodasi
Memberi kesempatan pada orang lain untuk mengatur strategi
pemecahan masalah, khususnya apabila isu tersebut penting bagi orang
lain. Hal ini memungkinkan timbulnya kerjasama dengan memberi kesempatan
pada mereka untuk membuat keputusan. Perawat yang menjadi bagian dalam
konflik dapat mengakomodasikan pihak lain dengan menempatkan kebutuhan pihak
lain di tempat yang pertama.
c. Kompetisi
Gunakan metode ini jika anda percaya bahwa anda memiliki
lebih banyak informasi dan keahlian yang lebih dibanding yang lainnya atau
ketika anda tidak ingin mengkompromikan nilai-nilai anda. Metode ini mungkin
bisa memicu konflik tetapi bisa jadi merupakan metode yang penting untuk
alasan-alasan keamanan.
d. Kompromi atau Negosiasi
Masing-masing memberikan dan menawarkan sesuatu pada waktu
yang bersamaan, saling memberi dan menerima, serta meminimalkan
kekurangan semua pihak yang dapat menguntungkan semua pihak.
e. Memecahkan Masalah atau Kolaborasi
Ø Pemecahan sama-sama menang
dimana individu yang terlibat mempunyai tujuan kerja yang sama.
Ø Perlu adanya satu komitmen dari
semua pihak yang terlibat untuk saling mendukung dan saling memperhatikan
satu sama lainnya.
f. Pemecahan persoalan
Dalam strategi pemecahan persoalan, diambil asumsi dasar
semua pihak mempunyai keinginan menangualngi konflik yang terjadi dan karenanya
perlu dicarikan ukuran-ukuran yang dapat memuaskan pihak-pihak yang terlibat
dalam konflik. Atas dasar asumsi tersebut maka dalam strategi pemecahan
persoalan harus selalu dilalui dua tahap penting, yaitu proses penemuan gagasan
dan proses pematangannya. Hasil penelitian yang pernah dilakukan Amerika
membuktikan bahwa usaha pemecahan persoalan menjadi lebih produktif bila semua
gagasan dikumpulkan terlebih dahulu sebelum dibahas.
Penelitian yang sama juga
membuktikan bahwa mutu cara pemecahan akan lebih baik bila pimpinan terlebih
dahulu membahas persoalannya sebelum membicarakan cara pemecahannya. Karena
maksud pemecahan persoalan ialah untuk membahas berbagai macam kemungkinan,
maka justru menciptakan kemungkinan berbeda pendapat, bukan menghilangkannya.
g. Musyawarah
Dalam strategi ini terlebih dahulu harus ditentukan secara
jelas apa sebenarnya yang menjadi persoalan. Berdasarkan jelasnya persoalan
itulah kemudian kedua belah pihak yang sedang dalam pertikaian mengadakan
pembahasan untuk mendapatkan titik pertemuan.
Pada waktu perundingan atau musyawarah tersebut dilakukan
dapat pula dikembangkan suatu konsensus bahwa setelah terjadi
kesepakatan, masing-masing pihak harus berusaha mencegah timbulnya konflik
lagi.
h. Persuasi
Dalam strategi ini usaha
penanggulangan konflik dilakukan dengan menemukan kepentingan dan tujuan yang
lebih tinggi dari tujuan pihak-pihak yang sedang bertikai.
i.
Mencari
lawan yang sama
Strategi ini pada prinsipnya hampir sama dengan strategi
ketiga. Perbedaannya adalah bahwa pada strategi ini semua diajak untuk
lebih bersatu kaena harus menghadapi pihak ketiga sebagai pihak yang dianggap
merupakan lawan dari kedua belah pihak yang bertikai.
j.
Meminta
bantuan pihak ketiga
Hal yang penting adalah mengetahui
dibidang apa pertikaian , dalam arti apakah terjadinya berkaitan dengan konflik
politik, konflik wewenang, konflik hukum, konflik teknis pekerjaan, dan
lainnya. Hal ini penting guna dapat memilih pihak ketiga yang kiranya
dapat untuk menanggulangi akibat yang lebih negatif dari suatu konflik.
k. Peningkatan interaksi dan komunikasi
Alasan penggunaan strategi ini
adalah bahwa bila pihak-pihak yang berkonflik dapat meningkatkan interaksi dan
komunikasi mereka, pada suatu saat mereka akan dapat lebih mengerti dan
menghargai dasar pemikiran dan prilaku pihak lain. Pengertian dan
penghargaan ini penting, karena dapat mengurangi pandangan buruk terhadap
kelompok lain.
l.
Latihan
kepekaan
Strategi ini bisa disebut “encounter
session” strategi ini umumnya digunakan untuk menghadapi konflik yang
terjadi dalam suatu kelompok ataupun antar kelompok. Pihak-pihak yang
berkonflik diajak masuk dalam satu kelompok. Dalam kelompok ini masing-masing
pihak diberi kesempatan menyatakan pendapatnya termasuk pendapatnya yang
negatif, mengenai pihak yang lain. Sementara itu, pihak yang dikritik
diharapkan mendengarkannya lebih dahulu kemudian dapat pula mengemukakan
pendapatnya. Dengan telah dikeluarkan, segala perasaan atau “ganjalan” yang
dikandung, diharapkan masing-masing pihak akan lega
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Konflik dapat terjadi dalam
organisasi apapun. Untuk itulah manajer atau pimpinan dalam organisasi harus
mampu mengelola konflik yang terdapat dalam organisasi secara baik agar tujuan
organisasi dapat tercapai tanpa hambatan-hambatan yang menciptakan terjadinya
konflik.
Terdapat banyak cara dalam
penanganan suatu konflik. Manajer atau pimpinan harus mampu mendiagnosis sumber
konflik serta memilih strategi pengelolaan konflik yang sesuai sehingga
diperoleh solusi tepat atas konflik tersebut. Dengan pola pengelolaan konflik
yang baik maka akan diperoleh pengalaman dalam menangani berbagai macam konflik
yang akan selalu terus terjadi dalam organisasi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar